Al-Farabi adalah seorang komentator filsafat Yunani yang sangat ulung di
dunia Islam. Meskipun kemungkinan besar ia tidak bisa berbahasa Yunani, ia
mengenal para filsuf Yunani; Plato, Aristoteles dan Plotinus dengan baik.
Kontribusinya terletak di berbagai bidang seperti matematika, filosofi,
pengobatan, bahkan musik. Al-Farabi telah menulis berbagai buku tentang
sosiologi dan sebuah buku penting dalam bidang musik, Kitab al-Musiqa. Ia dapat
memainkan dan telah menciptakan bebagai alat musik.
Al-Farabi muda belajar ilmu-ilmu islam dan musik di Bukhara. Setelah
mendapat pendidikan awal, Al-farabi belajar logika kepada orang Kristen
Nestorian yang berbahasa Suryani, yaitu Yuhanna ibn Hailan. Pada masa
kekhalifahan Al-Muta'did tahun 892-902M, Al-farabi dan Yuhanna ibn Hailan pergi
ke Baghdad dan Al-farabi unggul dalam ilmu logika. Al-Farabi selanjutnya banyak
memberi sumbangsihnya dalam penempaan filsafat baru dalam bahasa Arab. Pada
kekahlifahan Al-Muktafi tahun 902-908M dan awal kekhalifahan Al-Muqtadir pada
tahun 908-932M Al-farabi dan Ibn Hailan meninggalkan Baghdad menuju Harran.
Dari Baghdad Al-Farabi pergi ke Konstantinopel dan tinggal di sana selama
delapan tahun serta mempelajari seluruh silabus filsafat.
Al-Farabi dikenal sebagai
"guru kedua" setelah Aristoteles. Dia adalah filosof islam pertama
yang berupaya menghadapkan, mempertalikan dan sejauh mungkin menyelaraskan
filsafat politik Yunani klasik dengan islam serta berupaya membuatnya bisa
dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu. Karyanya yang paling terkenal
adalah Al-Madinah Al-Fadhilah (Kota atau Negara Utama) yang membahas
tetang pencapaian kebahagian melalui kehidupan politik dan hubungan antara
rezim yang paling baik menurut pemahaman Plato dengan hukum Ilahiah islam
Pembahasan Selanjutnya
Komentar
Posting Komentar