TEORI ILMU HUDURI YANG DIPERLUAS

Sebelumnya kita telah membahas dan mencoba memahami tentang modus utama ilmu h{ud{u>ri yang menjelaskan tentang kesadaran realitas diri “keakuan” dalam cahaya murni, sekarang kita akan membahas tentang ilmu h{ud{u>ri yang diperluas.
Cahaya, bagaimanapun, terutama didasarkan atas intuisi mistik, meski Suhrawardi belakangan mencari bukti yang rasional atas pendirian yang didasarkan atas pengalaman ini. Baginya proposisi yang didasarkan atas pengalaman semacam ini bersifat empiris. Terlepas dari demonstrasi yang terakhir ini, proposisi ini didukung oleh pengalaman orang-orang bijak dimasa lalu yang mengikuti jalan mistik yang sama dan meyakini pandangan-pandangan yang sama. Meskipun para filsuf kuno dan modern berbeda dalam mempresentasikan pengajaran mereka, namun semua sependapat tentang hal-hal yang fundamental semacam itu seperti menyatunya Tuhan, tentu saja kebanyakan mereka tidak sependapat mengenai hal-hal yang bersifat derivatif.
            Suhrawardi membandingkan relasi pengalaman mistik pada Filsafat Illuminasionis dengan relasi observasi pada astronomi dan menyatakan bahwa tanpa pengalaman mistik, seseorang pencari akan terjebak dalam keraguan. Dengan demikian observasi sajalah tidak cukup menjadi basis bagi sebuah ilmu: suatu struktur yang rasional diperlukan juga. Suhrawardi menulis buku Filsaat Illuminasi sebagai filsafat, bukan mistisisme. Bahkan meski dia kadang-kadang menyebutkan pengalamannya dan tertarik dengan nilai-nilai pembuktian pada konsensus para guru bijak, namun dia mencatat bukti-bukti rasional yang dia temukan setelah pengalaman mistiknya, bukan pengalaman mistik itu sendiri.
Menjelaskan Ilmu H{ud{u>ri
Ilmu H{ud{u>ri karya Mehdi Hairi Yazdi, oleh Sayyed Hossein Nasr dinyatakan sebagai salah satu karya pertama berbahasa inggris yang yang berasal dari tradisi filsafat Islam yang terus hidup dan ditulis oleh seorang yang terlatih dalam metode kajian tradisional Islam. Dengan latar belakangnya, ia tumbuh menjadi ahli filsafat Timur dan Barat, dimana ia menguasai secara sangat baik, khazanah dan pemikiran filsafat Islam tradisi ishra>qiyah yang berkembang di Persia tanah airnya dan juga filsafat  Barat. Metode yang dipakai Hairi adalah metodologi filsafat analitik (analytical phylosophy) sehingga ia menunjukkan keabsahan suatu pengetahuan yang dalam filsafat ishra>qiyah (filsafat pencerahan mistis Islam) disebut al-‘ilm al-h}ud{u>ri al-ishra>qi>, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan knowledge by presence (pengetahuan dengan kehadiran) yang selanjutnya istilah ini akan lebih banyak dipakai daripada al-‘ilm al-h}ud{u>ri untuk melihat kontras-kontrasnya dengan pengetahuan lain.
            Pengetahuan dengan kehadiran adalah pengetahuan nyata bagi subjek yang mengetahui secara langsung tanpa perantara representasi mental dan simbolisme kebahasaan apapun. Sebagaimana yang dijelaskan oleh pemakalah “dimensi empiris ilmu huduri” bahwa subjek yang terlihat dalam pengetahuan ini oleh Hairi disebut “aku performatif” yang pada tingkat tertinggi akan membawa kepada pengalaman mistis, dan mempercepat proses titik puncak kesadaran kesatuan diri: yakni kesatuan eksistensial muthlak dengan Tuhan, wah}dat al-wuju>d. Adapun tujuan Hairi sangat jelas yakni hendak memperkenalkan gagasan “pengetahuan dengan kehadiran” (knowledge by presence) sebagai kesadaran manusiawi non-fenomenal—yang menurut Hairi sendiri—sama dengan wujud fithrah manusia secara epistimologis.
            Kesimpulan Hairi dari tinjauan sejarah epistimologi Islam mengenai “pengetahuan dengan kehadiran” ini adalah munculnya suatu kesadaran bahwa kebenaran eksistensial subjek yang mengetahui dan “kesadaran kesatuannya” serta objek yang diketahui, menjadi satu. Inilah dasar dari filsafat Islam tentang diri, seperti dikatakan Suhrawardi yang menjadi dasar uraian dalam ilmu hud{u>ri harus: (1) bersifat pengetahuan dengan kehadiran, (2) kesadaran swa-objektif, (3) mempunyai teori swa-objektif, (4) mempunyai teori pengetahuan dengan kehadiran, (5) mempunyai pengetahuan swa-objektif, (6) bersifat pengetahuan non-intensional, (7) bersifat pengetahuan non-fenomenal, (8) bersifat pengetahuan non-representational, (9) ada keidentikan antara “menjadi” dan mengatahui”.[1]

Makalah lengkapnya bisa didownload disini


[1]  Mehdi Hairi Yazdi, Menghadirkan Cahaya Tuhan: Epistimologi Illuminasionis dalam Filsafat Islam, edisi revisi, diterjemah oleh Ahsin Muhammad, (Bandung: Mizan, 2003), 165

Komentar