Muhammad adalah seorang nabi yang
terakhir dan juga satu-satunya nabi dalam sejarah yang kisah hidupnya dikenal
luas, namun masa-masa awal kehidupan Muhammad tidak banyak kita ketahui. Memang
saat ini kita mengetahui perjuangan hidupnya, upaya pemenuhan hajat
individunya, serta pelaksanaan tugas-tugas berat yang Ia realisasikan secara
bertahap dan penuh kesulitan, namun semua itu hanya didasarkan atas beberapa
riwayat terpercaya. Disamping sumber-sumber berbahasa Arab tentang kehidupan Nabi
dan periode awal Islam, tidak ada sumber lain yang kita ketahui. Rujukan
pertama tentang Muhammad dalam bahasa Suriah muncul dalam karya abad ke tujuh. [1]
Sebagaimana yang kita
ketahui, bahwa Muhammad mengawali misi kerasulannya dengan berdakwah secara
sembunyi-sembunyi selama tiga tahun pertama. Setelah itu, beliau diperintahkan
untuk berdakwah secara terbuka sanak keluarganya.[2]
Pada saat itu, hanya segelintir orang yang menyambut dakwahnya. Kemudian
Muhammad diperintahkan untuk berdakwah secara terbuka kepada semua kalangan.
Bagi orang-orang yang memiliki visi dan pandangan jauh ke depan, setelah
memperhatikan sejumlah peristiwa interaksi Muhammad dengan orang Makkah,
kepribadiannya yang menonjol dan langka serta ajarannya yang menginspirasi,
jelaslah bahwa Muhammad tentu akan menjadi orang besar dan tidak akan ada yang
sanggup untuk menghentikannya. Semua orang cerdas pada zaman itu tahu bahwa
ajakannya ke jalan kebenaran, kebaikan, dan keadilan bukanlah slogan biasa,
akan tetapi mengandung kebenaran hidup yang asasi dan pasti aka berhasil.
Muhammad pun diyakini bakal berkuasa di tanah Arab.
Dalam tempo kurang
lebih sepuluh tahun, Muhammad SAW telah meraih berbagai prestasi yang tidak
mampu disamai oleh pemimpin negara manapun. Bahkan akhirnya Muhammad menjadi
sosok yang sangat penting di bidang praktik pemerintahan. Beliau juga terlibat
dalam urusan kenegaraan.
Sebenarnya, kualitas
kenegarawanan Muhammad sudah terlihat sejak dini sebelum Muhammad diangkat
menjadi Nabi, yaitu pada acara pengembalian hajar aswad (batu hitam ka’bah) ke
tempat semula. Tatkala perbaikan bangunan ka’bah telah selesai, terjadilah
perdebatan mengenai siapa yang seharusnya meletakkan hajar aswad ke tempatnya
semula. Masing-masing suku Quraisy ingin mendapatkan kehormatan itu. Maka,
terjadilah perselisihan sengit selama kurang lebih lima hari, sepanjang siang
dan malam. Masing- masing suku mengajukan argumen,beradu mulut, bahkan terlibat
perkelahian. Mereka bahkan sudah merendam tangan-tangan mereka ke dalam baskom
berisi darah, tanda siap untuk berperang.
Namun, pertimbangan
sehat melalui jalan musyawarah yang akhirnya disepakati bahwa: Siapapun yang
pertama kali memasuki pintu ka’bah esok hari, dialah yang berhak mengambil
keputusan mengenai masalah ini. Esoknya, semua orang menyaksikan bahwa
Muhammadlah orang yang pertama kali berhasil memasuki ka’bah. Dengan satun,
semua suku mempersilahkan Muhammad untuk menempatkan kembali hajar aswad.
Mereka berkata: “Inilah Al Amin, kami semua puas. Yang berhak adalah Muhammad.”
Muhammad lalu mengambil
keputusan yang sangat cerdik untuk menyelesaikan situasi pelik itu. Beliau
menghamparkan jubah di atas tanah dan meminta agar hajar aswad diletakkan di
tengah-tengah hamparan jubah itu. Muhammad kemudian meminta kepada
masing-masing suku untuk memegangi ujung jubah itu dan bersama-sama mengangkat
dan menempatkannya ke tempat yang seharusnya. Demikianlah persengketaan itu
diselesaikanya dengan cara damai. Masing- masing suku yang awalnya saling
berseteru itu merasa puas terhadap keputusan istimewa yang diambil oleh
Muhammad.
Begitulah, dalam kurun
kurang lebih 23 tahun, beliau mampu mempersatukan berbagai kelompok suku yang
saling bertikai menjadi satu kesatuan kebangsaan, serta meletakkan dasar
pemerintahan, hukum, dan berbagi regulasi lainnya dengan kukuh. Perubahan
revolusioner itu jelas merupakan sebuah mukjizat.
Muhammad bukan saja
berhasil meletakkan tatanan hukum dan berbagai regulasi dalam sebuah negeri
yang kacau balau serta penuh dengan gejolak perang, melainkan juga melakukan
konstitusi tertulis secara seimbang lagi sempurna. Beliau menyiapkan tata kerja
sistem pemerintahan yang praktis serta menjamin terselenggaranya hak dan
kewajiban melalui konstitusi yang didasarkan pada prinsip penghormatan hak asasi
setiap individu dan masyarakat secara keseluruhan. Dalam konstitusi itu, secara
jelas ditegaskan bahwa kedaulatan dan kekuasaan hanyalah milik Allah SWT
sehingga aturanNya harus ditaati.[3]

Komentar
Posting Komentar