SEJARAH ILMU HUDHURI



Ilmu Hudhuri ialah ilmu yang tidak memisahkan antara objek dan subjek. Manusia sebagai subyek sudah dilengkapi dengan alat-alat kecerdasan internal yang memungkinkan dirinya untuk mengakses sesuatu yang amat dalam di dalam dirinya sendiri. Aliran ini berkeyakinan segala sesuatu dapat diketahui melalui kemampuan pendalaman batin. Hadis yang sering dikemukakan kelompok ini ialah Man arafa nafsahu fa qad arafa rabbahu (Barangsiapa yang memahami dirinya maka ia akan diberi kesanggupan untuk memahami diriNya). Tuhan Yang Maha Rumit untuk diketahui dapat dipahami melalui metode hudhuri. Kelompok yang lebih dekat dengan aliran ini ialah para sufi. Metode pendekatan pertama membayangkan Tuhan itu jauh (transenden) sehingga perlu upaya pendekatan diri secara ekstra.[1]
salah satu tesis Shadr Al-Din, Mulla Sadra, yang paling masyhur adalah kesatuan eksistensial antara “subyek yang mengetahui”, “obyek yang diketahui”, dan “pengetahuan”.[2]  Tidak ada alasan mengapa kita harus tidak mampu menganalisis kesatuan yang sederhana dan mutlak ini menjadi bagian-bagian konseptual yang berbeda, tanpa kerumitan konseptualnya merusak ketunggalan dan kesatuan dari realitas yang “tak berangkap” tersebut.
Ambillah misalnya titik pusat sebuah lingkaran sebagai contoh. Secara matematis dikatakan bahwa titik itu tunggal dan karenanya tidak bisa dibagi. Artinya, titik itu tidak bisa dibagi menjadi beberapa titik pada pusat lingkaran. Namun, kita ketahui bahwa titik itu mungkin dibagi ke dalam berbagai sisi dan arah jika secara konseptual kita telah merenungkan dan mendefinisikannya sebagai “titik yang berjarak sama dari semua titik yang ada di lingkaran yang mengelilinginya”. Jelas bahwa titik yang tak bisa dibagi itu kini telah terbagi menjadi sisi-sisi yang berbeda menurut bagian yang mengena kepadanya di sekeliling lingkaran itu. Sekalipun begitu, kita tahu bahwa multiplisitas yang tercermin dalam definisi tentang pusat lingkaran ini tidak merusak ketunggalan dan kesatuan status matematisnya.
Yang ingin dikemukakan dari analogi di atas adalah bahwa sementara struktur orisinal ilmu hudhuri adalah tunggal, tak berangkap, dan tak dapat dibagi-bagi, analisis konseptual memecah belahnya menjadi tiga “bagian” yang saling berhubungan yang semuanya dicirikan oleh keadaan-keadaannya yang esensial, hadir, dan bersifat mental. Akan tetapi, ketiga “bagian” ini tidak bergerak lebih lanjut dan berubah menjadi sebuah obyek eksternal. Sekalipun demikian, analisis ilmu hushuli, seperti akan kita lihat, melakukan hal itu; ia mengambil obyek eksternal sebagai butir keempat dari esensialitasnya. Oleh karena itu, ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran) adalah pengetahuan yang nyata dengan sendirinya (self-evident) dan memiliki obyek yang swaobyektif.[3] 
Ilmu Hudhuri merupakan sebuah bentuk real dari epistemologi islam yang mendasarkan sebuah pengetahuan diperoleh dengan kehadiran (al-ilmu al-hudhuri) yang mempunyai cara kerja berbeda dengan pengetahuan melalui konsep (al-ilmu al-hushuli). Berdasarkan teori ini para filosof islam yang mencoba mengkritisi filosof- filosof yang menggambarkan epistemologi mereka seperti Kant, Russel, Wittegenstein, dan lain-lain, tanpa kesadaran akan realitas makna “pengetahuan dengan kehadiran” tau yang dikenal dengan Ilmu Hudhuri, karena menurut mereka (filosof Islam) manusia pada hakekatnya memiliki kesadaran atau pengetahuan yang tidak diperoleh melalui indra melainkan melalui pikiran yang mengetahui sesuatu tanpa data indrawi.[4]
Makalah lengkap bisa didownload Disini

[2] Shadr Al-Din Al-Syirazi, Kitab Al-Asfar, jilid I, pasal 3
[3] Suhrawardi, Kitab Al-Tanbihat (Istanbul, 1945), hal. 72
[4] Yazdi, mehadi ha’iri, Menghadirkan Cahaya Tuhan, Epistemologi Iluminasionis Dalam filsafat islam, Bandung:Mizan, 2003.


Komentar