Masa Dinasti Umayyah

Dinasti Umayyah yang dimaksudkan dalam makalah ini adalah yang didirikan oleh keturunan Umayyah atas rintisan Mu’a>wiyahyang berpusat di Damaskus.[1] Setting cikal bakal dinasti ini bermula ketika Ali bin Abi Thalib dibaiat sebagai khalifah menggantikan kedudukan khalifah Usman bin Affan. Salah satu kebijakan awal dari Ali adalah pengambil alihan tanah-tanah dan kekayaan negara yang telah dibagi-bagikan oleh Usman kepada keluarganya dan memecat gubernur-gubernur dan pejabat pemerintahan yang diangkat Usman untuk meletakkan jabatannya. Namun, Mu’a>wiyahgubernur Syria menolak pemecatan itu sekaligus tidak mau membaiat Ali sebagai khalifah dan bahkan membentuk kelompok yang kuat dan menolak untuk memenuhi perintah-perintah Ali. Dia berusaha membalas kematian khalifah Usman, atau kalau tidak dia akan menyerang kedudukan khalifah bersama-sama dengan tentara Syria. Desakan Mu’a>wiyahakhirnya tertumpah dalam perang Shiffin.[2]
Dalam pertempuran itu hampir-hampir pasukan Mu’a>wiyahdikalahkan pasukan Ali, tapi berkat siasat penasehat Mu’a>wiyahyaitu Amr bin ‘Ash, agar pasukannya mengangkat mushaf-mushaf Al Qur’an di ujung lembing mereka, pertanda seruan untuk damai. Bukan saja perang itu berakhir dengan Tahkim Shiffin yang tidak menguntungkan Ali, tapi akibat itu pula kubu Ali sendiri menjadi terpecah dua yaitu yang tetap setia kepada Ali disebut Syiah dan yang keluar disebut Khawarij.[3]
Sejak peristiwa itu, Ali tidak lagi menggerakkan pasukannya untuk menundukkan Mu’a>wiyahtapi menggempur habis orang-orang Khawarij, yang terakhir terjadi peristiwa Nahrawan pada 09 Shafar 38 H,[4] dimana dari 1800 orang Khawarij hanya 8 orang yang selamat jiwanya sehingga dari delapan orang itu menyebar ke Amman, Karman, Yaman, Sajisman dan ke Jazirah Arab. Namun begitu, kaum Khawarij selalu berusaha untuk merebut massa Islam dari pengikut Ali, dan Mu’a>wiyah, sebab mereka yakin bahwa kedua pemimpin itu merupakan sumber dari pergolakan-pergolakan, mereka bertekad membunuh kedua pemimpin itu, namun hanya Ali yang terbunuh pada 20 Ramadlan 40 H di Masjid Kufah pada saat Ali shalat Subuh.[5]
Setelah Ali meninggal, rakyat segera membaiat Hasan bin Ali sebagai Khalifah. Karena melihat banyaknya perselisihan diantara sahabat-sahabatnya dan melihat pentingnya persahabatan umat, maka H{asan bin Ali melakukan kesepakatan damai dan menyerahkan kekuasaan pemerintahannya kepada Mu’a>wiyahpada bulan Rabiul Awal 41 H yang selanjutnya tahun itu disebut ‘A>m Jama>’ah atau tahun jamaah, karena kaum Muslimin sepakat menjadikan satu orang khalifah untuk menjadi pimpinan mereka yaitu Mu’a>wiyahdari Bani Umayah.[6]
Berangkat dari penyerahan kekuasaan Hasan bin Ali kepada Mu’a>wiyahBani Umayah tersebut, dalam makalah ini akan dibahas tentang kebangkitan pemerintahan Dinasti Umayyah sebagai penguasa baru. Mulai dari sejarah berdirinya, masa pemerintahannya dengan kemajuan yang dicapai terutama dinamika Politik, sosial dan ekonomi, intelektual dan keagamaan hingga dinasti ini mengalami keruntuhan.

Makalah lengkapnya bisa didownload di bawah ini



[1] Umayyah adalah putra Abd. Shams  putra Abd Manaf . dia merupakan pimpinan dan pembesar  orang Quraysh pada zaman Jahiliyah. Dia seorang saudagar yang sangat kaya dan mempunyai 10 orang anak dan semuanya menjadi pembesar dan pemimpin, diantaranya adalah Abu Sufyan bapak dari Mu’a>wi>yah pendiri daulah Amawiyyah. Mu’a>wi>yah adalah seorang laki-laki yang tinggi, tampan berkuli putih dan kalau tertawa bibirnya melipat. Lihat Muhammad Khad}ary Bik, Ta>ri>kh al-Umam al-Isla>miyyah al-Daulah al-Amawiyyah, vol. 2 (Mesir: Al-Maktabah al-Tija>riyyah al-Kubra>, 1969), 96. Dan periksa Ibnu Kathi>r al-Dimashqy, Al-Bida>yah wa al-Niha>yah, vol. 8  (Beirut Libanon: Da>rul al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2001), 124.
[2] Marshalll G. S. Hodgson, The Venture of Islam, vol. 1 (Chicago and London: The University of Chicago Press,tt), 214.
[3] Ibid., 215-216.
[4] Ibnu Kathi>r, Al-Bida>yah wa al-Niha>yah, vol.7, 277.
[5] Ibid., 318.
[6] Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedi Islam, vol. 5 (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve,2002), 132.
 

Komentar