Manusia
selalu penasaran dengan hal-hal yang tak nampak dan ingin sekali mengetahui
hakikat hal tersebut. Bahkan tidak jarang manusia sering menanyakan
eksistensinya hidup di dunia.[1]
Kebingungan
itu mulai menemukan jawaban ketika manusia berkenalan dengan filsafat. Namun,
filsafat hanya mengantarkan manusia pada sebuah keyakinan, bahwa ada kekuatan
maha besar kasat mata, yang mencipta dan mengatur alam semesta, tetapi
bagaimana hakikat wujudnya, dan bagaimana kehidupan manusia seharusnya,
filsafat tak mampu menjawabnya.
Keadaan ini memunculkan beberapa kelompok
manusia yang mencoba menggamabarkan wujud sang pencipta melalui apa yang mereka
lihat dan mereka rasa.[2]
Orang-orang Yunani Kuno misalnya, menganut
paham politeisme: bintang adalah tuhan
(dewa), Venus adalah (tuhan) Dewa Kecantikan, Mars adalah Dewa Peperangan,
Minerva
adalah Dewa Kekayaan, sedangkan Tuhan tertinggi adalah
Apollo atau Dewa Matahari. Masyarakat Mesir, tidak terkecuali. Mereka meyakini
adanya Dewa Iziz, Dewi Oziris, dan yang
tertinggi adalah Ra'. Masyarakat Persia- pun
demikian, mereka percaya, bahwa ada Tuhan Gelap dan tuhan Terang. Begitulah
seterusnya.[3]
Begitulah
kondisi umat manusia ketika menjadikan akal sebagai satu-satunya sandaran dalam
menjawab teka-teki kehidupan.Ujung-ujungnya mereka dibodohi oleh akal mereka
sendiri. Oleh karena itu,
diutuslah para rasul untuk mengenalkan Tuhan kepada umat manusia agar mereka
menemukan eksistensi wujudnya dan menjalankanya sesuai petunjuk Tuhan.
Untuk melancarkan misi suci tersebut Mereka dibekali bukti kebenaran yang berupa
keajaiban-keajaiban di luar nalar manusia untuk meyakinkan kaum mereka. Keajaiaban
ini lah yang sering disebut mukjizat.
Artikel lengkapnya download Disini

Komentar
Posting Komentar