I’JAZ AL-QUR’AN




Manusia selalu penasaran dengan hal-hal yang tak nampak dan ingin sekali mengetahui hakikat hal tersebut. Bahkan tidak jarang manusia sering menanyakan eksistensinya hidup di dunia.[1]
Kebingungan itu mulai menemukan jawaban ketika manusia berkenalan dengan filsafat. Namun, filsafat hanya mengantarkan manusia pada sebuah keyakinan, bahwa ada kekuatan maha besar kasat mata, yang mencipta dan mengatur alam semesta, tetapi bagaimana hakikat wujudnya, dan bagaimana kehidupan manusia seharusnya, filsafat  tak mampu menjawabnya.
Keadaan ini memunculkan beberapa kelompok manusia yang mencoba menggamabarkan wujud sang pencipta melalui apa yang mereka lihat dan mereka rasa.[2] Orang-orang Yunani Kuno misalnya, menganut paham politeisme: bintang adalah tuhan (dewa), Venus adalah (tuhan) Dewa Kecantikan, Mars adalah Dewa Peperangan, Minerva adalah Dewa Kekayaan, sedangkan Tuhan tertinggi adalah Apollo atau Dewa Matahari. Masyarakat Mesir, tidak terkecuali. Mereka meyakini adanya Dewa Iziz, Dewi Oziris, dan yang tertinggi adalah Ra'. Masyarakat Persia- pun demikian, mereka percaya, bahwa ada Tuhan Gelap dan tuhan Terang. Begitulah seterusnya.[3]
Begitulah kondisi umat manusia ketika menjadikan akal sebagai satu-satunya sandaran dalam menjawab teka-teki kehidupan.Ujung-ujungnya mereka dibodohi oleh akal mereka sendiri. Oleh karena itu, diutuslah para rasul untuk mengenalkan Tuhan kepada umat manusia agar mereka menemukan eksistensi wujudnya dan menjalankanya sesuai petunjuk Tuhan.
Untuk melancarkan misi suci tersebut  Mereka dibekali bukti kebenaran yang berupa keajaiban-keajaiban di luar nalar manusia untuk meyakinkan kaum mereka. Keajaiaban ini lah yang sering disebut mukjizat. 
Artikel lengkapnya download Disini

[1] Abdu al-h}ali>m mah}mu>d, Ma’a al Ambiya>’ wa al- Rusul, (Misr: Da<r al-ma’arif, 1999), 369.
[2] Muhammad  hasan a<lu  ya>sin, Allah Baina al-Fi}trah wa Al-Dali>l, (bairut: al-maktab al- alamy,1979),12-13.
[3]M.Quraish Shihab,  Wawasan Al-Quran, (Bandung: Mizan,cet13, 1996),15.

Komentar